Ortomosaik dapat dibuat dari DTM atau bisa juga dari DSM
Di web ini sebelumnya pernah membahas tentang Orthomosaik yang dibuat dari DSM dan juga bisa di buat dari DTM. Ada di link ini sebagai pengantar pada pembahasan kali ini. Sebagai ilustrasi singkat dari topik kali ini saya akan menampilkan sumber utama dari penyebab mengapa atap bangunan yang dibuat dari foto udara non metrik sering mengalami model bergerigi dan tidak lurus. Perhatikan pointcloud dibawah ini.

Pada tepi atap pointcloud yang terbentuk meski menggunakan pilihan ultra high pada software Agisoft, data yang terbentuk tidak bisa membentuk garis lurus dan rapi. Inilah awal mula penyebab mengapa hasil orthomosaiknya juga atap bangunan tidak lurus (bergerigi). Tentu saja visual ini tidak sesuai dengan kenyataan dilapangan. Penampakan dari atas pada obyek yang sama diatas nampak pada gambar dibawah ini.

Meski secara sekilas tepi atap bangunan nampak lurus, namun ketika dijadikan digital elevation model penampakan yang terjadi adalah interpolasi pada tepi atap. Interpolasi terjadi karena pointcloud yang membentuk sudut lancip pada pinggir genteng tidak sempurna ter-build oleh softaware. Penampakan DEM dari pointcloud tersebut nampak pada gambar dibawah ini.

Meski density pointcloud termasuk tinggi, namun interpolasi masih terjadi jika kita langsung generate menjadi DEM. Bahasa mudahnya, model nya tidak sesuai dengan realita. Jika DEM ini dijadikan surface untuk membentuk orthomosaik, tarikan garis bergerigi itu akan divisualkan oleh software dalam bentuk atap bergerigi. Dari sini kita akan lihat bagaimana orthomosaik akan membentuk atap tersebut. Berikut penampakannya.

Bisa kita lihat bersama sisi atas atap tidak lurus, namun bergerisi sama persis dengan visual pada DEM yang dibentuk sebelumnya. Jika dilakukan seamline editing, pilihan image yang tersedia yang dipilihkan oleh software tidak akan banyak berubah. Jadi bisa disimpulkan bahwa orthomosaik yang dibentuk dari DSM atau DEM akan menghasilkan visual atap bangunan yang bergerigi.
Namun metode membuat orthomosaik dengan DSM ini sebenarnya metode yang tepat untuk menghasilkan orthomosaik yang tegak atau true orthomosaik. Namun dibutuhkan level kedetilan pointcloud yang tinggi dan presisi untuk membentuk tepi atap. Salah satu koreksi pointcloud yg detil salah satunya dengan menggunakan bantuan dari data lidar. Namun cara ini tentu tidak mudah. Kita akan bahas hal ini di tulisan lain.
Metode lain untuk mengatasi kualitas orthomosaik bergerigi diatas adalah dengan membaut DTM. Proses ini tentu membutuhkan source pointcloud dengan kualitas minimal High pada saat build pointcloud. Kemudian dilakukan proses klasifikasi ground point. Kualitas ground yang terbentuk sangat membutuhkan kesabaran dan waktu yang tidak sebentar. Sebagai contoh data diatas kita pisahkan pointcloud bangunannya. Penampakan setelah diklasifikasi akan seperti berikut ini.

Dengan cara hanya kelas ground saja yang dijadikan source untuk membuat DEM, atau istilahnya menjadi DTM, maka kita akan mendapatkan visual DEM dimana objek-objek selain ground dipisahkan. Berikut ini visualnya.

Surface inilah yang digunakan untuk membuat orthomosaik. Berikut hasil orthomosaiknya. Tepi atap bangunan yang menjadi fokus di pembahasan ini nampak rapi, lurus tidak bergerigi.

Meski secara visual bagus dan rapi, namun orthomosaik yang dibuat dengan menggunakan DTM sebagai surface menyimpan beberapa kesalahan berupa relief displacement, dan kenampakan bangunan yang terkadang condong pada satu sisi. tetapi kesalahan diatas bisa dikurangi dengan kedisiplinan dalam pengaturan sidelap dan overlap. Semakin besar overlap dan sidelap kemungkinan relief displacement sebuah bangunan akan semakin berkurang.
Selain itu efek rolling shutter dan penggunakan lensa fix dengan fokus yang mendekati 35mm kesalahan diatas bisa juga dikurangi. Meski tidak akan bisa 100% hilang.
Kedua metode ini tersedia pada software Agisoft metashape. Namun tidak semua software pengolahan data foto udara drone memberikan fitur ini.
Semoga bermanfaat.
Yogyakarta, 17 Februari 2026
